Gaudeamus igitur,
Juvenes dum sumus;
Gaudeamus igitur,
Juvenes dum sumus;
Merinding luar biasa saat dengar lagu itu dinyanyikan oleh Maba 2012 di acara wisuda bulan lalu. Akhirnya setelah 4 tahun gw menantikan saat-saat itu, gw bisa merasakannya juga. Tahun 2008 Saat pertama kalinya gw bisa mengenakan almamater kuning bermakara putih itu gw bertekad dan janji sama diri gw juga sama sahabat seperjuangan gw opi, untuk lulus bareng-bareng empat tahun mendatang. And now we did it! Walaupun kita beda jurusan. Opi di filsafat dan gw berjuang di sastra jerman. Tapi kita berdua berhasil memenuhinya. We made it! Senangnya luar biasa.
Banyak yang udah gw laluin bareng opi. Masa-masa berat sebelum akhirnya kita diterima di kampus impian kita semuanya berhasil kita lewatin. Opi pernah bilang kalo dia merasa masih jalan di tempat di saat semua orang udah berlari. Dan gw pun merasakan hal yang sama. Tapi, hidup dan rejeki orang kan beda-beda. Tergantung nasibnya. Dan kita nggak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di garis finish nanti.
Gw nggak mau menggurui. I just wanna share this. Masa kuliah itu indah banget buat gw. Gw mengenal lebih banyak orang. Punya lebih banyak teman. Dan lebih banyak belajar hidup. Mulai dari hidup mandiri di kostan sampai belajar untuk mandiri khususnya untuk nyelesaiin tugas akhir, skripsi. Gw berusaha menyadarkan diri gw sendiri perlahan biar gw nggak nganggap kuliah itu kaya sekolah yang alurnya mengikuti program yang udah ada. Dan hal ini gw hadapi saat gw menghadapi kenyataan bahwa temen-temen deket gw memilih jalan untuk lulus lebih cepat, yaitu 3.5 tahun. Konsistensi gw diuji saat itu. Apakah gw akan ikut jejak mereka untuk di semester 7 atau tetap memperjuangkan lulus di semester 8 dengan skripsi. Dan akhirnya gw memilih untuk memperjuangkan skripsi gw. Semua orang punya pilihan dan langkahnya masing-masing, bukan? Meskipun saat itu jujur sejujur-jujurnya gw sedih luar biasa.
Kesedihan gw terbayar dengan beberapa berkah yang gw dapatkan di semester 8. Berkah pertama yang gw dapetin adalah gw bisa sekelas sama seseorang yang bikin gw penasaran sejak November 2008. Berkah kedua adalah gw mendapatkan tantangan untuk nyelesaiin skripsi gw beriringan dengan revisi naskah novel pertama gw. Dan berkah ketiga adalah gw bisa lebih mengenal teman-teman gw yang lajn. Yang bahkan nggak begitu dekat sm gw di semester-semester sebelumnya. Gw seneng banget bisa berkeluh-kesah sama mereka tentang semua hal. Khususnya saat kita sama- setress dengan skripsi kita masing- masing. Semua ini kayanya emang udah dirancang Allah untuk gw. Dan itu semua terbaik.
Inget kelulusan gw jadi ingat masa kelam gw ngerjain skripsi. Saat berbulan-bulan gw nggak tidur di kamar karena begadang semalam suntuk di depan laptop sampe laptop gw sempet rusak nggak bisa nyala karena terlalu diporsir pemakaiannya. Sekarang gw kangen masa-masa itu. Semua udah gw lewati dan sekarang gw harus memulai langkah gw berikutnya.
Dulu gw cuma anak SMA yang cuma pengen lulus dan kuliah di UI. UI adalah harga mati buat gw. Dan gw perjuangkan sampe harus berkorban waktu menunda kuliah gw satu tahun. Dan setelah gw berhasil masuk goal gw berikutnya adalah lulus tepat waktu dengan skripsi. Lagi-lagi gw melewati proses tersebut. Sekarang ijazah bermakara emas itu udah di tangan. Gw harus memperjuangkan lagi mimpi gw berikutnya, yaitu melihat nama gw muncul di credit title film sebagai penulis skenario dan melihat buku karya gw sendiri ada di rak seluruh toko buku di Indonesia. And now I'm on my way to reach it.
Leben und Liebe sind zu schwer zu verstehen. Wir brauchen eine Erleuchtung, um diese Woerter zu definieren.
Jumat, 19 Oktober 2012
Es ist zu schwer zu finden
Tiap langkah yang terlalui berpapasan dengan ribuan orang baru. Aku masih di sini dengan segala rasa tentangmu. Aku masih ingin mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya belum sempat kita mulai.
Terlalu cepat semuanya diakhiri.
Aku bahkan belum mengenalmu sepenuhnya.
Jika memang ada orang lain di luar sana yang tercipta untukku selamanya, aku harap bisa bertemu dengannya secepat mungkin.
Bukan hanya untuk sekadar gengsi , tapi lebih dari itu semua.
Kadang aku ingin memiliki seseorang tempat untuk berbagi.
Lebih dari teman atau sahabat.
Bukan hanya sekadar pendengar yang baik, tapi juga sebagai pelindung dan pelipur lara.
Ini keinginan yang manusiawi bukan?
Walaupun bagiku banyak yang lebih penting dari sebuah cinta. Namun, semua itu terefleksikan dengan sendirinya ketika kelam itu datang menghampiri dan aku seakan tanpa pijakan.
Mencari sesuatu dan seseorang yang sudi mendengarkan bukan hal yang sepele. Banyak yang ingin mendengarkan. Tapi bukan karena mereka benar-benar peduli.
Ada yang sambil lalu hanya untuk ingin tahu. Lalu di mana tempat yang tepat untuk mengadu seutuhnya? Ketika manusia sudah tidak bisa lagi menjadi harapan. Aku hanya bisa bersujud di atas tanah Allah yang pasti akan senantiasa mendengar dan mengerti apa yang aku ingin dan aku cari.
Vee
Terlalu cepat semuanya diakhiri.
Aku bahkan belum mengenalmu sepenuhnya.
Jika memang ada orang lain di luar sana yang tercipta untukku selamanya, aku harap bisa bertemu dengannya secepat mungkin.
Bukan hanya untuk sekadar gengsi , tapi lebih dari itu semua.
Kadang aku ingin memiliki seseorang tempat untuk berbagi.
Lebih dari teman atau sahabat.
Bukan hanya sekadar pendengar yang baik, tapi juga sebagai pelindung dan pelipur lara.
Ini keinginan yang manusiawi bukan?
Walaupun bagiku banyak yang lebih penting dari sebuah cinta. Namun, semua itu terefleksikan dengan sendirinya ketika kelam itu datang menghampiri dan aku seakan tanpa pijakan.
Mencari sesuatu dan seseorang yang sudi mendengarkan bukan hal yang sepele. Banyak yang ingin mendengarkan. Tapi bukan karena mereka benar-benar peduli.
Ada yang sambil lalu hanya untuk ingin tahu. Lalu di mana tempat yang tepat untuk mengadu seutuhnya? Ketika manusia sudah tidak bisa lagi menjadi harapan. Aku hanya bisa bersujud di atas tanah Allah yang pasti akan senantiasa mendengar dan mengerti apa yang aku ingin dan aku cari.
Vee
Kamis, 18 Oktober 2012
Danke für die 3 schönen Tage
Aku lupa tanggal pertama kali melihatnya di kampus.
Yang aku ingat hanya bagaimana sosoknya begitu terlihat menawan bagiku.
Aku lupa bagaimana rasanya bosan berlama-lama di perpus.
Yang aku ingat bagaimana bersemangatnya aku mencari-cari sosoknya di sana.
Aku lupa bagaimana rasanya patah hati.
Yang aku ingat hanya bagaimana berbunga-bunganya jatuh cinta lagi.
Aku lupa bagaimana rasanya menyerah pada ketidaktahuan.
Yang aku ingat hanya luapan rasa penasaran mendorongku untuk mencaritahu semua tentangnya.
Aku lupa bagaimana rasanya mengikhlaskan sesuatu yg tidak mungkin dimiliki.
Yang aku ingat bagaimana harapan itu menyeruak ketika aku lihat dirinya masuk di kelas yang sama denganku saat semeater terakhirku.
Aku lupa bagaimana caranya menyembunyikan rasa sukaku terhadapnya.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku nekat menghubunginya lebih dulu mengobati rasa penasaranku.
Aku lupa bagaimana sikap anehnya yang begitu cepat berubah dalam waktu singkat.
Yang aku ingat hanya betapa senangnya aku dengan kata-kata manisnya.
Aku lupa bagaimana temanku mengabarkan hal menyakitkan tentangnya.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa ternyata dia memang tidak mungkin teraih semudah itu.
Aku lupa bagaimana dia bersikap baik terhadapku.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa dia baik terhadap banyak perempuan.
Aku lupa kenyataan bahwa aku tak lebih cantik dari perempuan yang bersamanya.
Yang aku ingat hanya aku juga perempuan yang punya hati.
Aku lupa bagaimana caranya marah karena kebohongan.
Yang aku ingat hanya bagaimana alu harus memaafkan dia yang membuatku salah pengertian.
Aku lupa bahwa aku tidak punya apa-apa yang bisa menarik perhatiannya. Yang aku ingat hanya ternyata dia juga tidak terlalu pantas untukku.
Aku lupa bagaimana caranya menangisi nasib miris selama tiga hari itu.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku tersenyum karena dirinya.
Aku lupa apa gunanya kata maaf.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku mengungkapkan terima kasih untuk tiga hari yang indah itu.
Walaupun hanya dapat kuucapkan dalam hati.
Vee
Yang aku ingat hanya bagaimana sosoknya begitu terlihat menawan bagiku.
Aku lupa bagaimana rasanya bosan berlama-lama di perpus.
Yang aku ingat bagaimana bersemangatnya aku mencari-cari sosoknya di sana.
Aku lupa bagaimana rasanya patah hati.
Yang aku ingat hanya bagaimana berbunga-bunganya jatuh cinta lagi.
Aku lupa bagaimana rasanya menyerah pada ketidaktahuan.
Yang aku ingat hanya luapan rasa penasaran mendorongku untuk mencaritahu semua tentangnya.
Aku lupa bagaimana rasanya mengikhlaskan sesuatu yg tidak mungkin dimiliki.
Yang aku ingat bagaimana harapan itu menyeruak ketika aku lihat dirinya masuk di kelas yang sama denganku saat semeater terakhirku.
Aku lupa bagaimana caranya menyembunyikan rasa sukaku terhadapnya.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku nekat menghubunginya lebih dulu mengobati rasa penasaranku.
Aku lupa bagaimana sikap anehnya yang begitu cepat berubah dalam waktu singkat.
Yang aku ingat hanya betapa senangnya aku dengan kata-kata manisnya.
Aku lupa bagaimana temanku mengabarkan hal menyakitkan tentangnya.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa ternyata dia memang tidak mungkin teraih semudah itu.
Aku lupa bagaimana dia bersikap baik terhadapku.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa dia baik terhadap banyak perempuan.
Aku lupa kenyataan bahwa aku tak lebih cantik dari perempuan yang bersamanya.
Yang aku ingat hanya aku juga perempuan yang punya hati.
Aku lupa bagaimana caranya marah karena kebohongan.
Yang aku ingat hanya bagaimana alu harus memaafkan dia yang membuatku salah pengertian.
Aku lupa bahwa aku tidak punya apa-apa yang bisa menarik perhatiannya. Yang aku ingat hanya ternyata dia juga tidak terlalu pantas untukku.
Aku lupa bagaimana caranya menangisi nasib miris selama tiga hari itu.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku tersenyum karena dirinya.
Aku lupa apa gunanya kata maaf.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku mengungkapkan terima kasih untuk tiga hari yang indah itu.
Walaupun hanya dapat kuucapkan dalam hati.
Vee
Rabu, 29 Agustus 2012
Filmsuchtig
Mungkin gw salah satu orang yang masa bodo mau ke mall sendirian atau nonton film ke bioskop sendirian. Banyak yang bilang kalo nonton film di bioskop sendirian itu menyedihkan. Buat gue nggak. Asik-asik aja sih nonton sendirian dan nggak sama sekali gw merasa ada yang aneh. Hal ini gue sering lakuin kalo gw lagi bete di rumah dan "nothing to do" yaudah jalanlah sendirian gw ke bioskop. Nyesuain jadwal untuk nonton bareng, ngajak temen, atau adik pun rasanya susah. Semua kan punya kesibukan masing-masing, sementara gw tipe orang yang nggak sabaran. Apalagi kalo lagi penasaran sama sesuatu. Nggak ada kata nunggu. Kalo gw lagi pengen nonton yaudah saat itu juga gwke bioskop.
Film yang gw tonton biasanya tergantung siapa yang main, ceritanya gimana, dan siapa sutradaranya. Kadang yang promosinya gila-gilaan bisa bikin gue penasaran dan langsung nonton. Kebanyakan film yang gue tonton film Indonesia. Meskipun udah jadi rahasia umum kalau film Indonesia biasanya kalau bukan film horror atau film layar lebar standar FTV tapi gue tetep lebih suka nonton film Indonesia di bioskop kebanding nonton film hollywood. Gw bukan penganut paham "anti nonton film Indonesia di bioskop". Walaupun beberapa orang pasti ada yang berpaham seperti itu dengan asumsi beberapa bulan lagi pasti itu film bakal muncul di tivi. Tapi buat gw entah mengapa emang lebih enak nonton film di bioskop sih ya. Uang yang dikeluarin juga nggak seberapa untuk beli satu tiket bioskop. Dan gue nggak pernah sama sekali nyesel setelah keluar studio bioskop hanya karena filmnya "cuma gitu doang". Seenggaknya gw menghargai filmmakernya. Film itu karya besar yang nggak gampang bikinnya. Nggak cuma kelar sehari-duahari dan dengan biaya yang luar biasa, nggak cuma satu-dua juta. Tapi itu semua tergantung perpektif masing-masing sih. Semua berhak punya pilihan. Dan ini juga cuma share pandangan gw aja. Toh, bioskop terbuka untuk umum dan bebas kok. Gw pun nggak nonton keseluruhan film yang tayang di bioskop.
Nah, bicara soal film yang lagi tayang di bioskop gw mau share sedikit soal film Indonesia yang sekarang lagi ngehits banget. "Perahu Kertas". Film yang diadaptasi dari novel karya Dee ini bener-bener bikin ribuan orang berdecak kagum. Entah gw yang lebay atau emang bagus ya filmnya. Tapi, nonton dua kali kok rasanya belum cukup buat gw. Pertama kali nonton gw belom tau ceritanya karna gw emang belom baca bukunya yang ditulis Dee Lestari. Setelah pertama nonton baru deh gw baca bukunya dan setelah selesai gw nonton lagi untuk kedua kalinya. Secara keseluruhan film Perahu Kertas bagian pertama itu memang padet banget kalo disamain sama cerita yang ada dalam novelnya. Tapi, semua adegan yang ada cukup mewakili semua yang ada di novelnya (kecuali beberapa bab akhir yang emang akan muncul di part 2). Adegan dalam novel juga ada beberapa yang hilang. Itu juga pertimbangan penting atau nggaknya mungkin adegan itu tampil. Kalau semuanya plek divisualisasikan bisa kelar tiga hari tiga malem juga tuh film. Kan nggak mungkin. Well, dari segi pemain gue suka sama semua yang main di situ. Tokoh Kugy dan Keenannya juga sesuai dengan yang digambarin di novel. Maudy Ayunda cukup berhasil menghidupkan tokoh Kugy dan Adipati Dolken sukses bikin gue terhipnotis dengan tatapam mautnya di setiap adegan Keenan menatap Kugy penuh arti.
Sebuah film nggak cuma di dukung dari segi cerita, visual, adegan, skenario, dan tokoh aja, tapi juga soundtrack bagus yang bisa menjadi nilai plus sebuah film. Dan film Perahu Kertas ini didukung dengan soundtrack yang sukses bikin gue jatuh cinta. Dua lagu dari 10 lagu dalam CD soundtracknya jadi lagu favorit gw, pertama lagu "Perahu Kertas" - Maudy Ayunda terus yang satu lagu "Cinta yang tak mungkin" - Elyzia Mulachela.
Film karya Hanung Bramantyo emang nggak ada matinya deh. Semua karyanya nggak diragukan. Gue suka film pertamanya "Catatan Akhir Sekolah". Dan waktu "Tanda Tanya" dirilis pun gue sampe dua kali nonton tuh film. Sekarang saat "Perahu Kertas" hal itu pun terulang lagi.
Oke. That's all for this entry.
d(-.-)b ----> salam radar Neptunus.
Vee
Viel Glueck und Viel Spass
Holla!
Akhirnya setelah sekian lama gue muncul lagi di blog gue. Ruang yang gue buat sendiri dan dunia aneh yang mungkin cuma gue yang mengerti.
Banyak yang gue lewati beberapa bulan ini. Mulai dari proses pengerjaan skripsi gue yang benar-benar merasakan nikmatnya menjadi mahasiswa semester akhir. Skripsi buat gue sendiri adalah sebuah proses yang penuh pelajaran dan pengalaman berharga. Dalam pengerjaan skripsi itu gue belajar bagaimana gue bertanggungjawab untuk diri gue sendiri dan berusaha sebaik mungkin agar nggak mengecewakan orang-orang sekitar gue yang udah membantu gue. Skripsi itu akhirnya selesai dengan hasil Alhamdulillah. Seenggaknya itulah hasil usaha gue sendiri. Perjuangan meninggalkan tempat tidur ternyaman gue selama berbulan-bulan. Jam tidur gue berantakan. Rumah berantakan. Tapi, setelah itu semua selesai gue merasa lega dan puas luar biasa. Sidang gue yang yang berjalan cukup lama pun akhirnya berjalan lancar. Beribu ucap syukur nggak pernah berhenti gue panjatkan atas semua nikmat yang gue terima itu.
Nikmat. Yah, itu namanya nikmat. Apalagi di tengah kegalauan gue nyusun skripsi gue dihadapkan dengan sebuah berkah yang luar biasa. Cita-cita gue untuk jadi penulis hampir mnjadi nyata saat gue lagi galau nyusun Bab 2. Novel gue diterima penerbit. Senangnya luar biasa lebih dari menang lotre satu milyar. Gue dikasih waktu satu setengah bulan untuk revisi tulisan gue. Keyakinan gue hampir goyah tapi pada akhirnya gue bertekad untuk ngerjain semua itu beriringan dan Voila! Selesai juga deh revisinya dan seiring berjalannya waktu saat gue udah kelar sidang Alhamdulillah gue baru revisi novel gue bareng editor. Sekarang udah selesai semuanya. Daaannn gue tinggal menunggu kabar gembira lainnya yang Allah turunkan dari langit.
Selalu ada jalan kalo kita mau berusaha kok. Kita hanya butuh usaha saat satu kesempatan muncul di depan mata. Kesempatan gue untuk menjadi mahasiswa gue manfaatkan untuk meraih peruntungan gue menutup masa studi gue dengan menulis skripsi. Dan untuk mewujudkan cita-cita gue menjadi penulis gue manfaatkan sebaik mungkin di saat kesempatan yang dikasih penerbit untuk gue menulis tiba beriringan dengan proses pengerjaan skripsi gue. Semua gue lalui dengan kegembiraan dan berharap keberuntungan lainnya dikemudian hari agar keduanya juga akan tetap ada dalam penghujung usaha gue meraih mimpi.
So, Ich hab' viel Glueck und viel Spass.
Vee
Selasa, 17 Januari 2012
Der Tod
Hari ini tepat satu minggu setelah Ibu Lotta meninggal. Masih nggak percaya takdir dan keputusan Tuhan terjadi begitu cepat.
Umur manusia memang nggak ada yang tau. Tapi satu yang gue tau kematian adalah satu kepastian.
Lotta pun masih nggak nyangka kalau Ibunya akan pergi secepat itu. Gue pun yang masih sempat ketemu sama Ibu Lotta beberapa hari sebelum beliau meninggal nggak nyangka kalau sekarang beliau sudah tenang di sana.
Waktu.
Semua orang tau kalau waktu ngga akan pernah kembali. Penyesalan pun nggak akan berguna saat masa-masa itu hilang. Dan kita sebagai manusia nggak akan ada yang tahu sampai kapan waktu kita.
Lotta dan keluarganya terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi. Ibu dan ayahnya bekerja keras meski penghasilan mereka nggak seberapa. Yah, bisa dibilang kecil untuk orang-orang kalangan tertentu yang terkadang nggak bisa menghargai nilai sejumlah uang yang didapatkan lewat tetesan peluh dan bahkan air mata.
Kakak Lotta sekarang kuliah untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Sementara Lotta, dia bekerja tanpa henti dan tetap dengan semangat tinggi siang dan malam. Bahkan untuk bertemu atau sekadar ngobrol sama dia aja gue susah untuk menemukan waktu yang pas. Dari hasil kerjanya dia bisa membiayai kuliah kakaknya. Gue salut luar biasa. Ibunya pun begitu. Sejak pagi hingga sore Ibunya nampak tak kenal lelah bekerja semampunya. Sampai akhirnya hari itu ia harus kalah dengan penyakitnya dan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Sebelumnya Lotta dan kakaknya sudah bersikeras menyarankan Ibunya untuk pergi ke dokter. Tapi, Ibunya menolak dan lebih memilih untuk minum obat warung yang khasiatnya hanya bersifat sementara.
Gue tau Lotta benar-benar sedih dengan kejadian ini. Hari itu, saat semua orang datang ke rumahnya untuk melihat Ibunya yang sudah terbujur kaku, Lotta menghampiri gue dengan wajah sendu. Lotta lantas memeluk gue. Airmatanya meleleh seketika saat dia ada dalam pelukan gue. Gue pun begitu. Berulang kali dia memohon maaf untuk Ibunya. Lotta berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Dia kuat. Gue salut. Gue nggak bisa membayangkan jika gue berada dalam posisinya dia. Tapi Lotta ikhlas. Dia tau ini adalah jalan terbaik bagi Ibunya. Sekarang Ibunya tidak lagi merasakan sakit. Ibunya tidak lagi berjuang melawan rasa sakit itu. Beliau sudah tenang di sana.
Hari itu gue sadar, banyak yang lebih penting yang harus dipikirkan. Kegalauan-kegalauan kecil yang ada dalam hidup kita bukan sesuatu yang berarti. Introspeksi. Berbuat baik. Ingat Tuhan. Ingat kematian. Semua ini nggak akan abadi. Peka dengan sekitar kita. Dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.
kalo bicara soal waktu dan kematian gue jadi inget film In Time yang beberapa bulan lalu muncul di bioskop. Dalam film itu diceritakan bagaimana orang hidup hanya berdasarkan waktu yang ia punya. Dunia itu tanpa uang. Untuk membeli sesuatu pun menggunakan waktu yang mereka punya. Disini terlihat jelas betapa berharganya setiap detik dalam sebuah kehidupan. Dan yang punya leih banyak waktu dialah yang berkuasa dan bisa hidup lama. Banyak pesan yang bisa gue ambil dari film ini berhubungan dengan postingan gue sekarang. Waktu dan kematian. Manfaatkan waktu dan kesempatan yang kita punya. Jangan sampai semua itu berlalu dan akan berakhir sia-sia.
kalo bicara soal waktu dan kematian gue jadi inget film In Time yang beberapa bulan lalu muncul di bioskop. Dalam film itu diceritakan bagaimana orang hidup hanya berdasarkan waktu yang ia punya. Dunia itu tanpa uang. Untuk membeli sesuatu pun menggunakan waktu yang mereka punya. Disini terlihat jelas betapa berharganya setiap detik dalam sebuah kehidupan. Dan yang punya leih banyak waktu dialah yang berkuasa dan bisa hidup lama. Banyak pesan yang bisa gue ambil dari film ini berhubungan dengan postingan gue sekarang. Waktu dan kematian. Manfaatkan waktu dan kesempatan yang kita punya. Jangan sampai semua itu berlalu dan akan berakhir sia-sia.
Vee
Rabu, 04 Januari 2012
Das Geschenk
Hallo hallo hallo 2012. Please be nice!
Hari pertama tahun 2012 kemarin gue pergi sama temen-temen gue, sebut saja namanya Lotta dan Ifa. Mereka temen gue dari kecil. Bisa dibilang mereka sahabat gue. Entah kenapa dengan mereka gue merasa gue nggak perlu banyak mikir. Bareng mereka semua hal yang berat-berat sirna. Gue nggak perlu mikirin kesendirian gue, gue nggak mikirin skripsi gue yang nggak jalan-jalan, dan gue nggak perlu mikirin tentang rasa sakit hati. Lotta dan Ifa nggak pernah marah sama gue. Mereka bener-bener temen yang buat gue wow! Meski jalan hidup, tujuan, dan cita-cita kita beda hal itu nggak bikin gue menjauh atau menganggap mereka berbeda visi dan misi sama gue. Semua itu malah bikin kita makin deket. Gue sayang sama mereka berdua. Ifa yang sabar dan Lotta yang baik entah, apakah gue bisa nemuin orang-orang seperti mereka di tengah kehidupan gue sekarang yang kadang gue merasa selalu aja ada topeng di tengah guratan senyum.
Lotta dan Ifa malam itu ngasih gue sebuah kado ulang tahun. Ulang tahun gue emang udah lewat jauh tapi hari itu kita pergi untuk ngerayain ultah gue dan Ifa. Kado yang sederhana. Tapi, ketulusan dari mereka yang luar biasa. Oh, ya. Gue juga ga akan lupa dengan temen-temen gue di kampus dan temen gue yang gue kenal via dunia maya.
Gue akan bahas satu persatu.
Temen-temen kampus gue. Mereka baik. Itu yang gue tau. Mereka ngasih gue surprise yang tak terkira saat ultah gue. Hadiah yang mereka beli buat gue bener-bener spesial. Thanks all.
Temen dunia maya gue. Thank you my partner in crime. Kalo nggak kenal dia gue nggak akan pernah ngelakuin hal-hal nekat untuk sekadar nemuin pangeran kita Herr Wunderbar. Meski sekarang kita ngerasa ada sesuatu yang beda dalam diri sang pangeran. Tapi, we still love you our Prince Charming. Kau tak akan terganti deh pokoknya.
Well, sekarang waktunya gue mikirin diri sendiri. Gue harus berhasil memberikan hadiah terbesar untuk kedua orang tua gue. Skripsi gue harus selesai semester ini. Nggak mau tau! Agustus 2012 gue harus udah menyandang gelar S, Hum. I wish!
Vee
Langganan:
Postingan (Atom)

