Selasa, 17 Januari 2012

Der Tod

Hari ini tepat satu minggu setelah Ibu Lotta meninggal. Masih nggak percaya takdir dan keputusan Tuhan terjadi begitu cepat.
Umur manusia memang nggak ada yang tau. Tapi satu yang gue tau kematian adalah satu kepastian.
Lotta pun masih nggak nyangka kalau Ibunya akan pergi secepat itu. Gue pun yang masih sempat ketemu sama Ibu Lotta beberapa hari sebelum beliau meninggal nggak nyangka kalau sekarang beliau sudah tenang di sana.
Waktu. 
Semua orang tau kalau waktu ngga akan pernah kembali. Penyesalan pun nggak akan berguna saat masa-masa itu hilang. Dan kita sebagai manusia nggak akan ada yang tahu sampai kapan waktu kita. 
Lotta dan keluarganya terkenal dengan etos kerjanya yang tinggi. Ibu dan ayahnya bekerja keras meski penghasilan mereka nggak seberapa. Yah, bisa dibilang kecil untuk orang-orang kalangan tertentu yang terkadang nggak bisa menghargai nilai sejumlah uang yang didapatkan lewat tetesan peluh dan bahkan air mata.

Kakak Lotta sekarang kuliah untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya karena ia adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarganya. Sementara Lotta, dia bekerja tanpa henti dan tetap dengan semangat tinggi siang dan malam. Bahkan untuk bertemu atau sekadar ngobrol sama dia aja gue susah untuk menemukan waktu yang pas. Dari hasil kerjanya dia bisa membiayai kuliah kakaknya. Gue salut luar biasa. Ibunya pun begitu. Sejak pagi hingga sore Ibunya nampak tak kenal lelah bekerja semampunya. Sampai akhirnya hari itu ia harus kalah dengan penyakitnya dan tidak sadarkan diri untuk beberapa hari. Sebelumnya Lotta dan kakaknya sudah bersikeras menyarankan Ibunya untuk pergi ke dokter. Tapi, Ibunya menolak dan lebih memilih untuk minum obat warung yang khasiatnya hanya bersifat sementara.

Gue tau Lotta benar-benar sedih dengan kejadian ini. Hari itu, saat semua orang datang ke rumahnya untuk melihat Ibunya yang sudah terbujur kaku, Lotta menghampiri gue dengan wajah sendu. Lotta lantas memeluk gue. Airmatanya meleleh seketika saat dia ada dalam pelukan gue. Gue pun begitu. Berulang kali dia memohon maaf untuk Ibunya. Lotta berusaha meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Dia kuat. Gue salut. Gue nggak bisa membayangkan jika gue berada dalam posisinya dia. Tapi Lotta ikhlas. Dia tau ini adalah jalan terbaik bagi Ibunya. Sekarang Ibunya tidak lagi merasakan sakit. Ibunya tidak lagi berjuang melawan rasa sakit itu. Beliau sudah tenang di sana. 
Hari itu gue sadar, banyak yang lebih penting yang harus dipikirkan. Kegalauan-kegalauan kecil yang ada dalam hidup kita bukan sesuatu yang berarti. Introspeksi. Berbuat baik. Ingat Tuhan. Ingat kematian. Semua ini nggak akan abadi. Peka dengan sekitar kita. Dan manfaatkan waktu sebaik-baiknya.

kalo bicara soal waktu dan kematian gue jadi inget film In Time yang beberapa bulan lalu muncul di bioskop. Dalam film itu diceritakan bagaimana orang hidup hanya berdasarkan waktu yang ia punya. Dunia itu tanpa uang. Untuk membeli sesuatu pun menggunakan waktu yang mereka punya. Disini terlihat jelas betapa berharganya setiap detik dalam sebuah kehidupan. Dan yang punya leih banyak waktu dialah yang berkuasa dan bisa hidup lama. Banyak pesan yang bisa gue ambil dari film ini berhubungan dengan postingan gue sekarang. Waktu dan kematian. Manfaatkan waktu dan kesempatan yang kita punya. Jangan sampai semua itu berlalu dan akan berakhir sia-sia.



Vee

Rabu, 04 Januari 2012

Das Geschenk

Hallo hallo hallo 2012. Please be nice!

Hari pertama tahun 2012 kemarin gue pergi sama temen-temen gue, sebut saja namanya Lotta dan Ifa. Mereka temen gue dari kecil. Bisa dibilang mereka sahabat gue. Entah kenapa dengan mereka gue merasa gue nggak perlu banyak mikir. Bareng mereka semua hal yang berat-berat sirna. Gue nggak perlu mikirin kesendirian gue, gue nggak mikirin skripsi gue yang nggak jalan-jalan, dan gue nggak perlu mikirin tentang rasa sakit hati. Lotta dan Ifa nggak pernah marah sama gue. Mereka bener-bener temen yang buat gue wow! Meski jalan hidup, tujuan, dan cita-cita kita beda hal itu nggak bikin gue menjauh atau menganggap mereka berbeda visi dan misi sama gue. Semua itu malah bikin kita makin deket. Gue sayang sama mereka berdua. Ifa yang sabar dan Lotta yang baik entah, apakah gue bisa nemuin orang-orang seperti mereka di tengah kehidupan gue sekarang yang kadang gue merasa selalu aja ada topeng di tengah guratan senyum. 

Lotta dan Ifa malam itu ngasih gue sebuah kado ulang tahun. Ulang tahun gue emang udah lewat jauh tapi hari itu kita pergi untuk ngerayain ultah gue dan Ifa. Kado yang sederhana. Tapi, ketulusan dari mereka yang luar biasa. Oh, ya. Gue juga ga akan lupa dengan temen-temen gue di kampus dan temen gue yang gue kenal via dunia maya.

Gue akan bahas satu persatu.
Temen-temen kampus gue. Mereka baik. Itu yang gue tau. Mereka ngasih gue surprise yang tak terkira saat ultah gue. Hadiah yang mereka beli buat gue bener-bener spesial. Thanks all. 
Temen dunia maya gue. Thank you my partner in crime. Kalo nggak kenal dia gue nggak akan pernah ngelakuin hal-hal nekat untuk sekadar nemuin pangeran kita Herr Wunderbar. Meski sekarang kita ngerasa ada sesuatu yang beda dalam diri sang pangeran. Tapi, we still love you our Prince Charming. Kau tak akan terganti deh pokoknya.

Well, sekarang waktunya gue mikirin diri sendiri. Gue harus berhasil memberikan hadiah terbesar untuk kedua orang tua gue. Skripsi gue harus selesai semester ini. Nggak mau tau! Agustus 2012 gue harus udah menyandang gelar S, Hum. I wish! 



Vee