Jumat, 19 Oktober 2012

Abschlussfeier

Gaudeamus igitur,
Juvenes dum sumus;
Gaudeamus igitur,
Juvenes dum sumus;


Merinding luar biasa saat dengar lagu itu dinyanyikan oleh Maba 2012 di acara wisuda bulan lalu. Akhirnya setelah 4 tahun gw menantikan saat-saat itu, gw bisa merasakannya juga. Tahun 2008 Saat pertama kalinya gw bisa mengenakan almamater kuning bermakara putih itu gw bertekad dan janji sama diri gw juga sama sahabat seperjuangan gw opi, untuk lulus bareng-bareng empat tahun mendatang. And now we did it! Walaupun kita beda jurusan. Opi di filsafat dan gw berjuang di sastra jerman. Tapi kita berdua berhasil memenuhinya. We made it! Senangnya luar biasa.

Banyak yang udah gw laluin bareng opi. Masa-masa berat sebelum akhirnya kita diterima di kampus impian kita semuanya berhasil kita lewatin. Opi pernah bilang kalo dia merasa masih jalan di tempat di saat semua orang udah berlari. Dan gw pun merasakan hal yang sama. Tapi, hidup dan rejeki orang kan beda-beda. Tergantung nasibnya. Dan kita nggak pernah ada yang tahu apa yang akan terjadi di garis finish nanti.

Gw nggak mau menggurui. I just wanna share this. Masa kuliah itu indah banget buat gw. Gw mengenal lebih banyak orang. Punya lebih banyak teman. Dan lebih banyak belajar hidup. Mulai dari hidup mandiri di kostan sampai belajar untuk mandiri khususnya untuk nyelesaiin tugas akhir, skripsi. Gw berusaha menyadarkan diri gw sendiri perlahan biar gw nggak nganggap kuliah itu kaya sekolah yang alurnya mengikuti program yang udah ada. Dan hal ini gw hadapi saat gw menghadapi kenyataan bahwa temen-temen deket gw memilih jalan untuk lulus lebih cepat, yaitu 3.5 tahun. Konsistensi gw diuji saat itu. Apakah gw akan ikut jejak mereka untuk di semester 7 atau tetap memperjuangkan lulus di semester 8 dengan skripsi. Dan akhirnya gw memilih untuk memperjuangkan skripsi gw. Semua orang punya pilihan dan langkahnya masing-masing, bukan? Meskipun saat itu jujur sejujur-jujurnya gw sedih luar biasa.

Kesedihan gw terbayar dengan beberapa berkah yang gw dapatkan di semester 8. Berkah pertama yang gw dapetin adalah gw bisa sekelas sama seseorang yang bikin gw penasaran sejak November 2008. Berkah kedua adalah gw mendapatkan tantangan untuk nyelesaiin skripsi gw beriringan dengan revisi naskah novel pertama gw. Dan berkah ketiga adalah gw bisa lebih mengenal teman-teman gw yang lajn. Yang bahkan nggak begitu dekat sm gw di semester-semester sebelumnya. Gw seneng banget bisa berkeluh-kesah sama mereka tentang semua hal. Khususnya saat kita sama- setress dengan skripsi kita masing- masing. Semua ini kayanya emang udah dirancang Allah untuk gw. Dan itu semua terbaik.

Inget kelulusan gw jadi ingat masa kelam gw ngerjain skripsi. Saat berbulan-bulan gw nggak tidur di kamar karena begadang semalam suntuk di depan laptop sampe laptop gw sempet rusak nggak bisa nyala karena terlalu diporsir pemakaiannya. Sekarang gw kangen masa-masa itu. Semua udah gw lewati dan sekarang gw harus memulai langkah gw berikutnya.


Dulu gw cuma anak SMA yang cuma pengen lulus dan kuliah di UI. UI adalah harga mati buat gw. Dan gw perjuangkan sampe harus berkorban waktu menunda kuliah gw satu tahun. Dan setelah gw berhasil masuk goal gw berikutnya adalah lulus tepat waktu dengan skripsi. Lagi-lagi gw melewati proses tersebut. Sekarang ijazah bermakara emas itu udah di tangan. Gw harus memperjuangkan lagi mimpi gw berikutnya, yaitu melihat nama gw muncul di credit title film sebagai penulis skenario dan melihat buku karya gw sendiri ada di rak seluruh toko buku di Indonesia. And now I'm on my way to reach it.




Es ist zu schwer zu finden

Tiap langkah yang terlalui berpapasan dengan ribuan orang baru. Aku masih di sini dengan segala rasa tentangmu. Aku masih ingin mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya belum sempat kita mulai.
Terlalu cepat semuanya diakhiri.
Aku bahkan belum mengenalmu sepenuhnya.
Jika memang ada orang lain di luar sana yang tercipta untukku selamanya, aku harap bisa bertemu dengannya secepat mungkin.
Bukan hanya untuk sekadar gengsi , tapi lebih dari itu semua.
Kadang aku ingin memiliki seseorang tempat untuk berbagi.
Lebih dari teman atau sahabat.
Bukan hanya sekadar pendengar yang baik, tapi juga sebagai pelindung dan pelipur lara.
Ini keinginan yang manusiawi bukan?
Walaupun bagiku banyak yang lebih penting dari sebuah cinta. Namun, semua itu terefleksikan dengan sendirinya ketika kelam itu datang menghampiri dan aku seakan tanpa pijakan.
Mencari sesuatu dan seseorang yang sudi mendengarkan bukan hal yang sepele. Banyak yang ingin mendengarkan. Tapi bukan karena mereka benar-benar peduli.
Ada yang sambil lalu hanya untuk ingin tahu. Lalu di mana tempat yang tepat untuk mengadu seutuhnya? Ketika manusia sudah tidak bisa lagi menjadi harapan. Aku hanya bisa bersujud di atas tanah Allah yang pasti akan senantiasa mendengar dan mengerti apa yang aku ingin dan aku cari.


Vee

Kamis, 18 Oktober 2012

Danke für die 3 schönen Tage

Aku lupa tanggal pertama kali melihatnya di kampus.
Yang aku ingat hanya bagaimana sosoknya begitu terlihat menawan bagiku.
Aku lupa bagaimana rasanya bosan berlama-lama di perpus.
Yang aku ingat bagaimana bersemangatnya aku mencari-cari sosoknya di sana.
Aku lupa bagaimana rasanya patah hati.
Yang aku ingat hanya bagaimana berbunga-bunganya jatuh cinta lagi.
Aku lupa bagaimana rasanya menyerah pada ketidaktahuan.
Yang aku ingat hanya luapan rasa penasaran mendorongku untuk mencaritahu semua tentangnya.
Aku lupa bagaimana rasanya mengikhlaskan sesuatu yg tidak mungkin dimiliki.
Yang aku ingat bagaimana harapan itu menyeruak ketika aku lihat dirinya masuk di kelas yang sama denganku saat semeater terakhirku.
Aku lupa bagaimana caranya menyembunyikan rasa sukaku terhadapnya.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku nekat menghubunginya lebih dulu mengobati rasa penasaranku.
Aku lupa bagaimana sikap anehnya yang begitu cepat berubah dalam waktu singkat.
Yang aku ingat hanya betapa senangnya aku dengan kata-kata manisnya.
Aku lupa bagaimana temanku mengabarkan hal menyakitkan tentangnya.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa ternyata dia memang tidak mungkin teraih semudah itu.
Aku lupa bagaimana dia bersikap baik terhadapku.
Yang aku ingat hanya kenyataan bahwa dia baik terhadap banyak perempuan.
Aku lupa kenyataan bahwa aku tak lebih cantik dari perempuan yang bersamanya.
Yang aku ingat hanya aku juga perempuan yang punya hati.
Aku lupa bagaimana caranya marah karena kebohongan.
Yang aku ingat hanya bagaimana alu harus memaafkan dia yang membuatku salah pengertian.
Aku lupa bahwa aku tidak punya apa-apa yang bisa menarik perhatiannya. Yang aku ingat hanya ternyata dia juga tidak terlalu pantas untukku.
Aku lupa bagaimana caranya menangisi nasib miris selama tiga hari itu.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku tersenyum karena dirinya.
Aku lupa apa gunanya kata maaf.
Yang aku ingat hanya bagaimana aku mengungkapkan terima kasih untuk tiga hari yang indah itu.
Walaupun hanya dapat kuucapkan dalam hati.

Vee